Keselamatan Kerja di Kapal Perikanan: Risiko yang Harus Dipahami Setiap ABK

Keselamatan Kerja di Kapal Perikanan: Risiko yang Harus Dipahami Setiap ABK

Bekerja di kapal perikanan internasional menawarkan kesempatan untuk membangun karier di sektor maritim. Namun, pekerjaan ini juga memiliki risiko yang perlu dipahami oleh setiap Anak Buah Kapal (ABK). Lingkungan kerja di laut berbeda dengan pekerjaan di darat karena kondisi cuaca, pergerakan kapal, peralatan operasional, dan aktivitas penangkapan ikan dapat berubah sewaktu-waktu.

Oleh karena itu, keselamatan kerja ABK harus menjadi prioritas sejak sebelum keberangkatan hingga selama menjalankan tugas di atas kapal. Memahami risiko dan menerapkan prosedur keselamatan bukan hanya membantu melindungi diri sendiri, tetapi juga menjaga keselamatan seluruh awak kapal.

PT RNT Utama Indonesia mendorong calon ABK untuk mempersiapkan diri dengan memahami lingkungan kerja maritim, kedisiplinan, serta pentingnya menerapkan prinsip safety kapal perikanan dalam setiap aktivitas.

1. Risiko Kecelakaan di Area Deck Kapal

Deck merupakan salah satu area kerja yang memiliki risiko kecelakaan cukup tinggi, terutama ketika kapal sedang melakukan operasi penangkapan ikan. Permukaan deck dapat menjadi licin akibat air laut, ikan, sisa umpan, atau minyak. Kondisi ini meningkatkan risiko terpeleset, tersandung, dan terjatuh.

Selain itu, pergerakan kapal akibat gelombang dapat membuat awak kehilangan keseimbangan, terutama ketika bekerja dengan membawa peralatan atau hasil tangkapan.

Untuk mengurangi risiko tersebut, ABK perlu menggunakan alas kaki yang sesuai, menjaga area kerja tetap rapi, memperhatikan kondisi permukaan deck, dan berpegangan pada bagian kapal yang aman ketika bergerak. Awak kapal juga harus menghindari berlari di deck serta tidak berjalan melewati area berbahaya tanpa memperhatikan situasi sekitar.

2. Cuaca Buruk dan Kondisi Laut yang Berubah

Cuaca buruk merupakan salah satu tantangan utama dalam pekerjaan di kapal perikanan. Gelombang tinggi, angin kencang, hujan lebat, dan jarak pandang terbatas dapat meningkatkan risiko kecelakaan saat kapal beroperasi.

Dalam kondisi tersebut, pergerakan kapal menjadi lebih sulit diprediksi. ABK dapat kehilangan keseimbangan, terbentur benda di sekitarnya, atau mengalami cedera ketika menjalankan tugas di deck.

Setiap ABK harus memperhatikan instruksi nakhoda dan perwira kapal, mengikuti prosedur keselamatan yang berlaku, serta menggunakan perlengkapan pelindung sesuai kebutuhan. Jika kondisi kerja dinilai berbahaya, awak perlu segera melaporkannya kepada atasan dan mengikuti keputusan operasional yang ditetapkan.

Keselamatan harus selalu menjadi pertimbangan utama dalam setiap aktivitas, terutama ketika kondisi laut berubah dengan cepat.

3. Bahaya Peralatan Bergerak dan Mesin Kapal

Kapal perikanan menggunakan berbagai peralatan untuk mendukung kegiatan penangkapan ikan, seperti winch, tali penarik, jaring, katrol, dan mesin lainnya. Peralatan tersebut dapat menimbulkan risiko serius apabila digunakan tanpa pemahaman dan kewaspadaan yang memadai.

Tali yang sedang ditarik dapat menegang secara tiba-tiba, sedangkan jaring dan bagian mesin yang bergerak dapat menjepit tangan atau anggota tubuh. Pakaian longgar maupun aksesori tertentu juga berisiko tersangkut pada peralatan.

ABK harus memahami fungsi peralatan yang menjadi tanggung jawabnya, mengikuti instruksi operator, dan tidak menyentuh mesin yang sedang bergerak tanpa kewenangan. Jangan pernah berdiri di jalur tarikan tali atau di area yang berpotensi terkena ayunan peralatan.

Jika ditemukan kerusakan atau kondisi tidak aman, segera laporkan kepada personel yang berwenang. Jangan mencoba memperbaiki mesin tanpa izin dan pelatihan yang sesuai.

4. Pentingnya Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)

Alat Pelindung Diri (APD) merupakan bagian penting dari penerapan keselamatan kerja ABK. Jenis perlengkapan yang digunakan harus disesuaikan dengan pekerjaan, kondisi lingkungan, serta ketentuan keselamatan di kapal.

Beberapa perlengkapan yang umum digunakan meliputi:

  • Sepatu keselamatan antiselip: Membantu mengurangi risiko terpeleset dan melindungi kaki.
  • Sarung tangan kerja: Melindungi tangan ketika menangani tali, jaring, atau hasil tangkapan sesuai jenis pekerjaan.
  • Helm keselamatan: Membantu melindungi kepala dari benturan atau benda jatuh di area yang mewajibkannya.
  • Jaket pelampung: Digunakan sesuai prosedur keselamatan, khususnya ketika terdapat risiko jatuh ke laut atau saat keadaan darurat.
  • Pelindung mata dan pendengaran: Digunakan apabila pekerjaan melibatkan percikan, partikel, atau kebisingan yang berbahaya.

APD harus diperiksa sebelum digunakan. Namun, perlu diingat bahwa APD tidak menggantikan prosedur kerja yang aman. Awak kapal tetap harus mengikuti instruksi, mengenali bahaya, dan menjaga jarak aman dari sumber risiko.

5. Memahami Prosedur Darurat di Kapal

Setiap ABK perlu mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat, seperti kebakaran, orang jatuh ke laut, kebocoran, atau kondisi kapal yang mengancam keselamatan.

Sebelum bekerja, pelajari jalur evakuasi, lokasi alat pemadam kebakaran, titik kumpul, perlengkapan keselamatan, serta sinyal alarm yang digunakan di kapal. Ikuti latihan keselamatan dan pahami tugas yang diberikan kepada setiap awak dalam situasi darurat.

Ketika keadaan darurat terjadi, tetap tenang, segera laporkan kejadian, dan ikuti instruksi nakhoda atau petugas yang bertanggung jawab. Jangan mengambil tindakan di luar kemampuan atau pelatihan yang dimiliki karena dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Memahami prosedur darurat sejak awal dapat membantu ABK merespons situasi dengan lebih cepat dan terarah.

6. Kebiasaan Kerja yang Mendukung Keselamatan

Penerapan safety kapal perikanan tidak hanya bergantung pada peralatan, tetapi juga pada kebiasaan sehari-hari. Disiplin, komunikasi, dan kepedulian terhadap kondisi sekitar merupakan bagian penting dalam mencegah kecelakaan.

Setiap ABK sebaiknya membiasakan diri untuk:

  • Memahami instruksi kerja sebelum memulai tugas.
  • Menjaga kebersihan dan kerapian area kerja.
  • Melaporkan bahaya, kerusakan, atau kejadian nyaris celaka.
  • Tidak bercanda atau mengalihkan perhatian saat melakukan pekerjaan berisiko.
  • Menjaga kondisi fisik, beristirahat sesuai jadwal, dan melaporkan kelelahan yang dapat memengaruhi keselamatan.
  • Tidak bekerja di bawah pengaruh alkohol atau zat yang mengganggu kemampuan bekerja.
  • Berkomunikasi dengan jelas dan bekerja sama dengan awak lainnya.

Keselamatan merupakan tanggung jawab bersama. Jika melihat rekan kerja melakukan tindakan berbahaya, berikan peringatan dengan cara yang tepat dan ikuti mekanisme pelaporan di kapal.

Persiapkan Diri Sebelum Bekerja di Kapal Perikanan

Memahami keselamatan kerja ABK merupakan bekal penting bagi siapa pun yang ingin membangun karier di kapal perikanan internasional. Pengetahuan mengenai risiko di deck, cuaca buruk, peralatan bergerak, APD, prosedur darurat, dan disiplin kerja membantu calon ABK memahami tanggung jawabnya di lingkungan maritim.

PT RNT Utama Indonesia mendukung proses persiapan calon awak kapal melalui kegiatan rekrutmen, koordinasi dokumen, dan pengarahan sesuai kebutuhan penempatan. Calon ABK tetap perlu memenuhi persyaratan pekerjaan, mengikuti pelatihan yang diwajibkan, serta memahami ketentuan keselamatan yang berlaku pada kapal dan posisi yang dituju.

Ingin mempersiapkan diri untuk bekerja di kapal perikanan internasional? Ikuti informasi rekrutmen resmi PT RNT Utama Indonesia dan persiapkan kualifikasi Anda dengan baik. Jadikan keselamatan sebagai prioritas agar Anda dapat bekerja secara disiplin, bertanggung jawab, dan profesional di atas kapal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

logo RNT (4)

PT RNT Utama Indonesia

Head Office

(Fishing, Merchant, and Cruise Vessel)

@2025 Copyright PT RNT Utama Indonesia | Web Design by Lafasy Digital